Kamis, 06 Juni 2013

Biografi Carl Ransom Rogers



CARL ROGERS

Biografi
            Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, Illinois, pada 8 Januari 1902. Pada umur 12 tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers menjadi tertarik kepada pertanian secara ilmiah. Pertanian ini membawanya ke perguruan tinggi, dan pada tahun-tahun pertama Rogers sangat gemar akan ilmu alam dan ilmu hayat. Setelah menyelesaikan pelajaran di University of Wisconsin pada 1924 Rogers masuk Union Theological College of Columbia, disana Rogers mendapat pandangan yang liberal dan filsafat mengenai agama. Kemudian pindah ke Teachers College of Columbia, disana Rogers terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal psikologi klinis dengan bimbingan L. Hollingworth. Rogers mendapat gelar M.A. pada 1928 dan doctor pada 1931 di Columbia. Pengalaman praktisnya yang pertama-tama diperolehnya di Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya Freudian. Rogers menemukan bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu tidak cocok dengan pendidikan yang diterimanya yang mementingkan statistik dan pemikiran menurut aliran Thorndike.
            Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Selama masa ini Rogers dipengaruhi oleh Otto Rank, seorang psychoanalyst yang memisahkan diri dari Freudian yang ortodok.
            Pada tahun 1940 Rogers menerima tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio State University. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa oleh Rogers sendiri sangat tajam. Karena rangsangannya Rogers merasa terpaksa harus membuat pandangannya dalam psikoterapi itu menjadi jelas. Dan ini dikerjakannya pada 1942 dalam buku Counseling and Psychotheraphy.
            Pada tahun 1945 Rogers menjadi mahaguru psikologi di Universitas of Chicago, yang dijabatnya hingga kini. Tahun 1946-1957 menjadi presiden the American Psychological Association. Dan meninggal dunia tanggal 4 Februari 1987 karena serangan jantung.
            Meskipun teori yang dikemukan Rogers adalah salah satu dari teori holistik, namun keunikan teori adalah sifat humanis yang terkandung didalamnya. Teori humanistik Rogers pun menpunyai berbagai nama antara lain : teori yang berpusat pada pribadi (person centered), non-directive, klien (client-centered), teori yang berpusat pada murid (student-centered),  teori yang berpusat pada kelompok (group centered), dan person to person). Namun istilah person centered yang sering digunakan untuk teori Rogers.
             Rogers menyebut teorinya bersifat humanis dan menolak pesimisme suram dan putus asa dalam psikoanalisis serta menentang teori behaviorisme yang memandang manusia seperti robot. Teori humanisme Rogers lebih penuh harapan dan optimis tentang manusia karena manusia mempunyai potensi-potensi yang sehat untuk maju. Dasar teori ini sesuai dengan pengertian humanisme pada umumnya, dimana humanisme adalah doktrin, sikap, dan cara hidup yang menempatkan nilai-nilai manusia sebagai pusat dan menekankan pada kehormatan, harga diri, dan kapasitas untuk merealisasikan diri untuk maksud tertentu.

Pendekatan Rogers terhadap kepribadian
            Tidak  seperti Allport, yang datanya semata-mata diperoleh dari studi tentang orang-orang dewasa yang matang dan sehat, Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini (dia lebih suka menyebut mereka “klien-klien”), Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian terhadap klien, bukan pada ahli terapi (seperti dalam pendekatan Freud). Karena itu disebut “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy). Jelas, metode ini menganggap bahwa individu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banyak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia.
            Rogers percaya bahwa orang-orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol. Kriterium terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional dimana kepribadian terus-menerus bertumbuh.
            Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat, atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat dan jauh lebih penting daripada masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi, pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak adalah penting, tetapi fokus Rogers tetap pada apa yang terjadi dengan kita sekarang, bukan pada apa yang terjadi waktu itu.

Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi 
            Dalam diri seseorang ada suatu drongan yang kuat atau sebuah kebutuhan fundamental yang sudah dibawa sejak lahir dan meliputi komponen fisiologis dan psikologis. Komponen fisiologis ini manjadi dominan pada masa-masa awal perkembangan manusia. Kebutuhan ini digambarkan sebagai kebutuhan untuk aktualisasi. 
            Pada tingkatan yang rendah, aktualisasi ini berbentuk kebutuhan fisiologis untuk mempertahankan hidup seperti misalnya makan dan minum. Selain itu aktualisasi juga membantu kita dalam pematangan dan pertumbuhan. Pematangan yang penuh ini membutuhkan banyak usaha meski secara otomatis tubuh kita akan berkembang dengan sendirinya. 
            Misalnya saja sebagai contoh adalah bagaimana bayi belajar berjalan. Meskipun bayi harus seringkali terjatuh dan merasa sakit ketika belajar untuk berjalan, namun bayi tetap terus menerus berusaha untuk berjalan. 
            Hal ini karena adanya dorongan dalam diri individu untuk mengaktualisasikan dirinya dengan cara berjalan. Dorongan ini lebih kuat dibandingkan rasa sakit dan perjuangan yang dialaminya. 
            Perubahan ini terus terjadi ke arah maju ke depan dan tidak dapat dibendung. Kecenderungan aktualisasi ini tidak bertujuan mengurangi tegangan, akan tetapi justru perjuangan serta keuletan untuk berjuang tersebut membuat diri individu makin tegang.  Ketika seorang bertambah besar maka konsep self (diri) makin berkembang dan muncul kecenderungan aktualisasi beralih dari fisiologis ke psikologis. Setelah konsep diri muncul maka proses aktualisasi diri menjadi terlihat. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta seluruh potensi psikologisnya yang unik.

Perkembangan Diri
Dalam masa kecil, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua yang lain-lainnya. Anak itu mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang di lihat, di dengar, diraba, dan di ciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain, anak itu mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept)
Dalam perkembangannya anak akan belajar untuk membutuhkan cinta. Kebutuhan ini disebut Rogers sebagai positive regards (penghargaan positif). Apakah anak tersebut akan menjadi pribadi yang sehat atau tidak tergantung dari apakah positive regards anak tersebut terpenuhi dengan baik atau tidka.
Positive regard, suatu kebutuhan yang memaksa dan merembes, dimiliki semua manusia, setiap anak terdorong untuk mencari positive regard. Akan tetapi tidak setiap anak akan menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas kalau dia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang lain, tetapi dia kecewa kalau dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Anak harus berkerja keras untuk positive regard dengan mengorbankan aktualisasi diri. Anak dalam situasi ini mengembangkan apa yang disebut Rogers “penghargaan positif bersyarat” (conditional positive regard). Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Karena anak mengembangkan condotional positive regard maka dia menginternalisasikan sikap-sikap ibu. Jika itu terjadi, maka sikap ibu diambilalih oleh anak itu dan diterapkan kepada dirinya.
Dalam kondisi tertentu, anak akan mengorbankan aktualisasi dirinya untuk mendapatkan positive regards. Caranya adalah dengan menjadi pribadi seperti apa yang diinginkan orang tuanya agar mendapatkan positive regards dari orang tuanya dan bukan menjadi pribadi yang diinginkan oleh dirinya sendiri.
Misalnya, apabila ibu menyatakan celaan setiap saat karena anak menjatuhkan suatu benda dari tempat tidurnya, maka anak itu akhirnya mencela dirinya sendiri sewaktu-waktu dia bertingkah laku demikian standar-standar penilaian dari luar menjadi miliknya sendiri dan anak itu “menghukum” dirinya hanya bila dia beringkah laku menurut cara-cara yang diketahuinya disetujui ibu. Dengan demikian diri menjadi “wakil ibu”.
Anak yang tumbuh dalam kondisi ini mengembangkan apa yang disebut sebagai conditional positif regards (penghargaan positif bersyarat). kepribadian yang dikembangkan oleh anak itu bukan konsep dirinya sendiri melainkan konsep kepribadian yang diinginkan oleh orang tuanya. 
Kondisi ini membuat individu tidak dapat mengaktualisasikan dirinya dan menciptakan ketidakharmonisan dalam diri individu tersebut. Individu semacam inilah yang disebut sebagai individu yang tidak sehat. 
Pribadi yang sehat tumbuh dalam kondisi sebaliknya. Salah satu cirinya adalah penerimaan unconditional positive regards (penghargaan positif tanpa syarat) pada masa kecilnya. Dimana orang tua dalam memberikan cinta dan kasih sayang atau positive regards tidak bergantung pada tingkah laku anaknya. Sehingga individu tersebut dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan konsep dirinya sendir.




Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
            Roger berpendapat bahwa kepribadian yang sehat, yaitu bukan merupakan suatu keadaan yang ada, melainkan suatu proses “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi berlangsung terus dan statis. Tujuan, yakni orientasi ke masa depan, menarik individu kedepan dan mengembangkan segala segi dari diri.
      Aktualisasi diri merupakan proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri merupakan ujian, rentangan, dan pecutan terus menerus terhadap kemampuan seseorang.
      Aktualisasi diri yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tidak bersembunyi dibalik topeng, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sebenarnya, Rogers tidak percaya bahwa orang yang telah mengaktualisasikan dirinya hidup dibawah hukuk-hukum yang diletakan orang lain, arah yang dipilih dan tingkah laku yang diperlihatkan itu berdasarkan diri mereka sendiri. Diri adalah tuan dari keperibadian dan beroprasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan orang lain, akan tetapi orang yang telah mengaktualisasikan diri ini tidak memberontak, agresif secara terus terang atau dengan sengaja. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu dalam sanksi-sanksi dari garis pedomanyang jelas dari masyarakat.
Roger memberikan lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi diri:
1)      Keterbukaan pada Pengalaman
      Kepribadian bersifat fleksibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan untuk persepsi dan ungkapan baru. Sementara itu, kepribadian orang yang defensif, bersembunyi di balik peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan memiliki pengalaman emosi yang lebih banyak, baik yang bersifat positif maupun negatif, dan mengalami emosi-emosi tersebut lebih kuat dibanding orang-orang yang defensif.

2)      Kehidupan Eksistensial
      Orang yang berfungsi sepenuhnya, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman akan dirasa segar dan baru, seolah ia belum pernah merasakan hal yang sama persis sebelumnya. Oleh karena itu, ada kegembiraan karena setiap pengalaman tersingkap. Kepribadian terbuka pada segala sesuatu yang terjadi pada momen tersebut dan ia menemukan dalam setiap pengalaman, terdapat suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respon atas pengalaman momen berikutnya.
3)      Kepercayaan terhadap Organisme Diri Sendiri
      Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar merupakan pedoman yang dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan dibanding faktor-faktor rasional maupun intelektual.. orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam perilaku tersebut, terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi atas tindakan.
4)      Perasaan Bebas
      Rogers meyakini, semakin seseorang sehat secara psikologis, maka ia semakin memiliki kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat dengan bebas memilih tanpa adanya paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkualitas secara pribadi mengenai kehidupan, dan percaya bahwa masa depan bergantung pada dirinya, tidak diatur oleh perilaku, keadaan, maupun peristiwa masa lalu. Karena merasa bebas inilahorang yang sehat akan melihat banyaknya pilihan dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apapun yang mungkin ia lakukan.
5)      Kreativitas
      Orang yang berfungsi sepenuhnya akan berperilaku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respon atas stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitar mereka. Orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konformitas atau penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan sosial dan kultural. Karena mereka tidak bersikap defensif, mereka tidak peduli pada kemungkinan perilaku mereka diterima oleh orang lain ataupun tidak. Namun, mereka dapat benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang ada akan membantu memenuhi kebutuhan mereka dan memungkinkan mereka mengembangkan diri hingga ke tingkatan paling penuh.
      Orang yang defensif akan merasa kurang bebas, tertutup banyak pengalaman, dan hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan sehingga menjadi tidak kreatif dan tidak spontan. Orang ini cenderung membuat kehidupan menjadi aman dan dapat diprediksi, dan juga menjaga agar tegangan-tegangan berada pada taraf minimal dibanding mencari tantangan, dorongan, maupun pengalaman baru.

DAFTAR PUSTAKA
·         Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan; Model-model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar