TERAPI
1.
Terapi-terapi Biologis
Terapi-terapi biologis (biological therapies) adalah
perlakuan-perlakuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala-gejala gangguan
psikologis dengan mengalihkan cara kerja tubuh individu. Terpai obat adalah
yang paling umum ditemukan dari terapi biomedis. Bentuk terapi biomedis yang
kurang banyak digunakan adalah terapi elektrokonfulsif dan psikosurgeri.
a.
Terapi Obat
Penanganan
dengan obat mulai merevolusi pelayanan kesehatan mental pada abad ke-20. Obat-obatan
psikoterapi digunakan terutama pada tiga kategori dioagnostik; gangguan
kecemasan, gangguan suasan hati, dan skizofrenia.
Q
Obat-obatan anti kecemasan (antianxiety drugs)
Dikenal sebagai
obat penenang (tranquilizer). Obat ini mengurangi kecemasan dengan membuat
individu menjadi lebih tenang dan kurang dapat dieksitasi. Kelompok obat
benzodiazepine adalah obat-obatan anti kecemasan yang sering menawarkan hasil
terbaik untuk meredakan gejala kecemasan. Obat-obat ini bekerja dengan menempel
pada sel-sel reseptor neurotransmitter yang menjadi terlalu aktif pada saat
kecemasasn. Obat yang paling sering diberikan dalam resep meliputi Xanax,
Valium, dan Librium.
Benzodiazepin,
seperti obat-obat lainnya memiliki beberapa efek samping (Fields, 2007). Mereka
dapat menimbulkan ketergantungan. Selain itu, perasaan malas, kehilangan
koordinasi kelelahan, dan perlambatan mental juga sering muncul saat obat-obat
ini digumakan. Efek ini dapat berbahaya ketika seseorang sedang mengemudi atau
mengoperasikan mesin tertentu, terutama ketika individu mulai mengonsumsi
benzodiazepine. Benzodiazepin juga telah dihubungkan dengan abnormalitas pada
bayi yang lahir dari ibu yang mengonsumsinya saat kehamilan (Grover, Avasthi,
& Sharma, 2006)
Q
Obat-obat Antidepresan (antidepressant drugs)
Obat ini dapat
mengendalikan suasana hati . Tiga kelompok utama obat-obat antidepresan adalah
trisiklik, seperti Elavil; penghambat monoamina oksidase (MAO), seperti Nardil;
dan selektif serotonin reuptake inhibitor (SSRI), seperti Prozac. Semua dari
keompok antidepresan ini dianggap dapat membantu suasana hati yang depresi
dengan member efek pada neurotransmitter di otak. Peningkatan penggunaan
obat-obat ini dalam resep menunjukan efektifitasnya dengan mengurangi
gejala-gejala depresi dengan efek samping yang relative sedikit disbanding
obat-obat antidepresan lainnya (Ksir, Hart, & Ray, 2008; Metzl, &
Angel, 2004). Walau demikian, mereka dapat memiliki efek negative termasuk
insomnia, kecemasan, sakit kepala, dan diare. Mereka juga dapat merusak fungsi
seksual dan menghasilkan gejala-gejala penarikan diri bila penggunaannya
diakhiri dengan tiba-tiba.
Litium
(lithium), banyak digunakan untuk menangani gangguan bipolar (Bourin, &
Prica, 2007). Litium dianggap mampu menstabilkan suasana hati dengan
mempengaruhi norepinefrin dan serotonin.
Q
Obat-obat Antipsikotik (antipsychotic drugs)
Adalah
obat-obatan yang kuat pengaruhnya yang menghilangkan perilaku teragitasi,
mengurangi ketegangan, mengurangi halusinasi, meningkatkan perilaku social, dan
menghasilkan polatidur yang lebih baik pada individu yang memliki gangguan
psikologis yang parah, terutama skizofrenia (Byrne, 2007; Green, 2007).
Neuroleptik adalah kelas obat-obatan antipsikotik yang paling banyak digunakan
(Garver, 2006) kemampuannya adalahuntuk menghalangi kerja system dopamine di
otak. Neuroleptik tidak mengobati skizofrenia, mereka hanya mengatasi
gejal-gejala skizofrenia, bukan penyebabnya. Salah satu efek samping dari
potensial dari obat-obatan neuroleptik adalah diskinesia taradif, yaitusebuah
gangguan neurologis yang ditandai oleh gerakan tidak dikehendaki yang aneh
sekali dari otot-otot wajah dan mulut, seperti kejangnya leher, lengan, dan
kaki (Soares Weiser,& Fernandez, 2007)
Jenis-jenis obat
yang digunakan untuk beragam gangguan psikologis, jenis gangguan psikologis
yang dapat diatasi dengan obat tersebut, dan efektivitas dan efek sampingnya :
Gangguan
Psikologis
|
Obat
|
Efektivitas
|
Efek
Samping
|
|||
Kecemasan Sehari-hari dan Gangguan
Kecemasan
|
||||||
Kecemasan sehari-hari
|
Obat
anti kecemasan dan antidepresan
|
Peningkatan
yang besar dalam jangka waktu singkat
|
Obat-obat
anti kecemasan: tidak terlalu kuat sehingga dikonsumsi lebih lama; dapat
menimbulkan ketergantungan
|
|||
Gangguan kecemasan tergeneralisasi
|
Obat-obat
anti kecemasan
|
Tidak
terlalu efektif
|
Tidak
terlalu kuat sehingga dikonsumsi lebih lama; dapat menimbulkan ketergantungan
|
|||
Gangguan panic
|
Obat-obat
anti kecemasan
|
Sekitar
setengah menunjukan peningkatan
|
Tidak
terlalu kuat sehingga dikonsumsi lebih lama; dapat menimbulkan ketergantungan
|
|||
Agrofobia
|
Obat-obat
trisiklik dan penghambat MAO
|
Kebanyakan
menunjukan peningkatan
|
Trisiklik:
tidak dapat diam diri, pucat, dan gemetar
Penghambat
MAO: keracunan
|
|||
Fobia spesifik
|
Obat-obat
anti kecemasan
|
Tidak
terlalu efektif
|
Tidak
terlalu kuat sehingga dikonsumsi lebih lama; dapat menimbulkan ketergantungan
|
|||
Gangguan Suasana Hati
|
||||||
Gangguan depresif
|
Obat-obat
trisiklik dan penghambat MAO, dan SSRI
|
Kebanyakan
menunjukan peningkatan yang lumayan
|
Trisiklik:
permasalahan jantung, mania, kebingungan, kehilangan ingatan
Penghambat
MAO: Keracunan
Obat
SSRI: mual, kecemasan, sulit tidur, dan beberapa kasus menimbulkan pikiran
bumuh diri
|
|||
Gangguan Bipolar
|
Litium
|
Kebanyakan
menunjukan peningkatan yang bermakna
|
Keracunan
|
|||
GAngguan Skizofrenia
|
||||||
Skizofrenia
|
Neuroleptik;pengobatan
antipsikotik tidak tipikal
|
Kebanyakan
menunjukan peningkatan parsial
|
Neuroleptik:detak
jantung tidak teratur, tekanan darah rendah, diskinesia Tardif
|
|||
b.
Terapi Elektrokonvulsif (electroconvulsive
therapy---ECT)
Terapi
elektrokonvulsif dikenal dengan terapi kejutan digunakan untuk menangani
individu-individu yang sangat depresi. Tujuan ECT adalah untuk menghasilkan
kejutan dalam otak seperti apa yang terjadi secara spontan dalam kasus epilepsi
(Brown, 2007; Moss & Vaidya, 2006). Pasien diberikan anestesi dan obat yang
membuat otot menjadi rileks sebelum diberikan ECT; dan obat-obat ini
memungkinkan individu tidur selama prosedur, meminimalkan konvulsi, dan
mengurangi cedera otak. Walau dimasa lalu aliran listrik diberikan
melaluikeseluruhan otak, saat ini ECT hanya diberikan pada sisi kanan otak.
Individu akan terbangun segera setelah pemberian ECT tanpa ada ingatan yang
disadari mengenai perlakuan yang dijalani.
Efek samping
potensial terapi elektro konvulsif ini meliputi kehilangan ingatan, dan
kerusakan kognitif lainnyadan beberapa lebih parah dari efek samping yang
ditimbulkan oleh obat-obatan (Hihn, et al, 2006).
c.
Psikosurgeri (psychosurgery)
Psikosurgeri
adalah terapi biologis yang melibatkan pengambilan dan penghancuran jaringan
otak untuk meningkatkan penyesuaian diri individu. Efek dari psikosurgeri
bersifat menetap dan tidak dapat dikembalikan.Pada tahun 1930-an, seorang
dokter Portugis Antonio Egas Moniz mengembangkan sebuah prosedur yang dikenal
sebagai lobotomi prefrontal . Dalam
prosedur ini, sebuah instrumen pembedahan dimasukan ke dalam otak, dan diputar,
memotong beberapa serat yang menghubungkan lobus frontal yang penting dalam
proses-proses piker tingkat tinggi, dan thalamus yang penting dalam emosi.
Moniz berteori bahwa, dengan memotong beberapa hubungan antara
struktur-struktur otak ini, pembedah dapat menyingkirkan beberapa gangguan
mental yang parah.
1.
Psikoterapi
Psikoterapi adalah pengobatan dengan
secara psikologis untuk masalah yang berkaitan dengan pikiran, perasaan dan
perilaku. Psikoterapi (Psycho therapy) berasal dari dua kata, yaitu
"Psyche" yang artinya jiwa, pikiran atau mental dan
"Therapy" yang artinya penyembuhan, pengobatan atau perawatan.Oleh
karena itu, psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental,
atau terapi pikiran.
Orang yang melakukan psikoterapi
disebut Psikoterapis (Psychotherapist). Seorang psikoterapis bisa dari kalangan
dokter, psikolog atau orang dari latar belakang apa saja yang mendalami ilmu
psikologi dan mampu melakukan psikoterapi.
Psikoterapi merupakan proses
interaksi formal antara dua pihak atau lebih, yaitu antara klien dengan
psikoterapis yang bertujuan memperbaiki keadaan yang dikeluhkan klien. Seorang
psikoterapis dengan pengetahuan dan ketrampilan psikologisnya akan membantu
klien mengatasi keluhan secara profesional dan legal.
Ada tiga ciri utama psikoterapi,
yaitu:
Å
Dari segi
proses
: berupa interaksi antara dua
pihak, formal, profesional, legal dan menganut kode etik psikoterapi.
Å
Dari segi
tujuan
: untuk mengubah kondisi psikologis
seseorang, mengatasi masalah psikologis atau meningkatkan potensi psikologis
yang sudah ada.
Å
Dari segi
tindakan:
seorang psikoterapis melakukan tindakan terapi berdasarkan ilmu psikologi
modern yang sudah teruji efektivitasnya.
Psikoterapi didasarkan pada fakta bahwa aspek-aspek mental
manusia seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi, believe system,
kebiasaan dan pola perilaku bisa diubah dengan pendekatan psikologis. Tujuan
psikoterapi antara lain:
ü Menghapus,
mengubah atau mengurangi gejala gangguan psikologis.
ü Mengatasi
pola perilaku yang terganggu.
ü Meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan kepribadian yang positif.
ü Memperkuat
motivasi klien untuk melakukan hal yang benar.
ü Menghilangkan
atau mengurangi tekanan emosional.
ü Mengembangkan
potensi klien.
ü Mengubah
kebiasaan menjadi lebih baik.
ü Memodifikasi
struktur kognisi (pola pikiran).
ü Memperoleh
pengetahuan tentang diri / pemahaman diri.
ü Mengembangkan
kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial.
ü Meningkatkan
kemampuan dalam mengambil keputusan.
ü Membantu
penyembuhan penyakit fisik.
ü Meningkatkan
kesadaran diri.
ü Membangun
kemandirian dan ketegaran untuk menghadapi masalah.
ü Penyesuaian
lingkungan sosial demi tercapai perubahan dan masih banyak lagi.
Psikoterapi berbeda dengan pengobatan
tradisional yang sering memandang gangguan psikologis sebagai gangguan karena
sihir, kesurupan jin atau karena roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat
tersebut karena sebagian masyarakat terlalu mempercayai tahayul dan kurang
wawasan ilmiahnya.
Dalam psikoterapi, gangguan
psikologis diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu. Kemudian
dilakukan proses psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti
berhasil mengatasi hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang
bersifat mistik.Klien psikoterapi juga tidak diberi obat, karena yang sakit
adalah jiwanya, bukan fisiknya.
Psikoterapi bukan untuk menangani
orang gila (orang yang rusak otaknya). Justru psikoterapi hanya
digunakan untuk menangani orang waras yang sedang mengalami masalah psikologis,
atau untuk membantu orang normal yang ingin meningkatkan kemampuan pikirannya.
Sedangkan penanganan orang gila adalah urusan Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
Dalam sesi Psikoterapi, Anda akan
diajak membahas dan menganalisa hambatan psikologis yang ada dalam diri Anda,
kemudian mencari pemecahannya dengan cara menerapkan metode psikoterapi yang
paling cocok. Psikoterapi hanya bisa dilakukan apabila Anda ingin disembuhkan
atau ingin berubah.Psikoterapi tidak bisa dipaksakan kepada orang yang tidak
mau dibantu.
Metode
Psikoterapi Yang Dipakai
Dalam ilmu psikologi, ada banyak
sekali metode yang bisa digunakan untuk terapi.Semua metode itu merupakan hasil
pemikiran dan penelitian para pakar psikologi dari berbagai penjuru dunia. Dari
sekian banyak metode psikoterapi yang ada, bisa dikategorikan dalam lima
pendekatan, yaitu:
1)
Psychoanalysis
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria.Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan.Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi.Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria.Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan.Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi.Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
Untuk mencapai dunia yang tidak
disadari,terapis psikoanalisis sering menggunakan teknik terapi berupa :
v Asosiasi Bebas (free association)
Terdiri atas upaya mendorong individu untuk
mengungkapkan dengankeras apapun yang muncul di pikiran, terlepas seberapa
membingungkan atau memalukannya hal tersebut (Hoffer 2006). Mendorong orang
untuk berbicara bebas fikiran Freud memungkinkanperasaan emosional muncul.
Katarsis adalah pelepasan tegangan emosional yang dialami seseorang ketika
menghidupkan kembali pengalaman konflik dan penuh emosi.
Interpretasi
memainkan peran penting
dalam psikoanalisis. Pernyataan dan perilaku seseorang tidak dianggaplalu saja.
Untuk memahami apa sesungguhnya yang menyebabkan konflik seseorang, terapis
terus berusaha mencari makna simbolikyang tersembunyiyang dilakukan
dandikatakan individu.
v Analisis Mimpi (dreem analysis)
Analisis mimpi adalah teknik yang digunakan
para psikoanalis untuk memaknai mimpi seseorang. Para psikoanalispercaya bahwa
mimpi memuat informasi mengenai pikiran-pikiran yang tidak disadari,
harapan-harapan, dan konflik (Andrade, 2007). Freud membedakan antar isi mimpi
yang termanifestasi dan isi laten. Isi
termanifestasi adalah istilah dalam psikoanalisis untuk aspek-aspek mimpi
yang diingat dan disadari, sedangkan isi
laten adalah bagian mimpi yang tidak diingat dan tidak disadari,
aspek-aspek tersembunyi ini disimbolkan oleh isi termanifestasi. Tujuan
analisis adalah untuk melepaskan makna rahasia ini dengan bertanya pada lapisan
pikiran orang yang lebih dalam. Psikoanalis memaknai mimpi dengan
menganalisisisi termanifestasi untukmencari kebutuhan-kebutuhan dan harapan
tidak disadari yang tampil disamarkan, terutama yang bersifat seksual dan
agresif. Simbol-simbol mimpi dapat berarti berbeda pada orang yang berbeda.
Contoh darisimbol seksual yang digunakan para psikoanalis untuk memaknai mimpi:
Tema Seksual
|
Objek atau aktifitas dalammimpi yang menyimbolkan
tema seksual
|
Alat
kelamin pria, terutama penis,
|
Payung, pisau, tiang,
pesawat terbang, senjata, ular, dasi, batang pohon dan selang
|
Alat
kelamin wanita, terutama vagina
|
Kotak, gua, kantong,
mulut, tempat perhiasan oven, dankloset
|
Hubungan
seksual
|
Mendaki, berenang,
terbang, menunggang(seekor kuda, sebuah tangga berjalan, sebuah roller
coaster)
|
Orang tua
|
Raja, ratu, kaisar, istri
kaisar
|
Saudara
|
Hewan-hewan kecil
|
v Transferens (transference)
Adalah istilah psikoanalisis untuk cara-cara
individu berhubungan dengan analis yang menghasilkan kembali hubungan penting
dalam kehidupan individu. Seseorang mungkin berinteraksi dengan analis,
seolah-olah analis adalah orang tua ataupasangan hidup. Transferens dapat
digunakan secara tarapeutik, sebagai sebuah model bagaimana individu
berhubungan dengan orang-orang yang penting dalam kehidupannya (Corradi, 2006)
v Resistensi (resistance)
Adalah istilah psikologi untuk strategi pertahanan klien yang tidak
disadari yang mencegah analis untuk memahami permasalahan orang tersebut.
Resistensi terjadi karena hal ini menjadi terlalu menyakitkan untuk individu
membawa konflik ke kesadaran pribadi.
Beberapa metode psikoterapi lain yang
termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah:
·
Ego State Therapy
·
Part Therapy
·
Trance Psychotherapy
·
Free Association
·
Dream Analysis
·
Automatic Writing
·
Ventilation
·
Catharsis
Terapi Psikodinamika Kontemporer
Walau wajah terapi psikodinamika telah berubah banyak semenjak pertama
kali muncul seabad yang lalu, banyak terapis psikodinamika kontemporer masih
bertanya secara mendalam untuk menggali pikiran-pikiran tidak disadari dari
individu tentang pengalaman masa kanak-kanak awal untuk memperoleh petunjuk pada masalah saat ini
(bovensiepen, 2006; Hamilton, 2006; Novie, 2007)
Saat ini individu jarang duduk rebahan pada sofa atau menemui terapis
mereka beberapa kali dalam satu minggu dan lebih banyak bertemu terapis secara
rutin setiap minggu, dan orang-orang duduk dalam kursi yang nyaman menghadap
terapis. Hanya sekelompok kecil terapis kontemporer yang benar-benar
mempraktikkan psikoanalisis Freud. Merreka yang masi melakukan terapi ini
biasanya menemui kliennya secara sering. Beberapa terapi psikodinamika
kontemporer juga d pat menjadi intensif
dan ekstensif, bertahan selama tahunan, namun demikian, dalam beberapa kasus,
terapi psikodinamika kontemporer ersifat singkat, dan hanya bertahan beberapa
bulan.
2)
Terapi Humanistik
Pendekatan Humanistic Therapy
menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu
menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas
menentukan pilihan hidupnya sendiri.Oleh karena itu, dalam terapi humanistik,
seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan
mengarahkan perubahan.Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien,
melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas
dasar kesadarannya sendiri.
Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah :
·
Terapi Client-Centered (client-centered therapies), adalah bentuk terpi humanistic yang dikembangkan oleh Carl Rogers
(1961,1980), dimana terapis menyediakan atmosfir hangat dan suportif untuk
meningkatkan konsep diri klien dan mendorong klien memperoleh pemahaman
terhadap masalah. Dalam terapi client-centered, tujuan terapi bukan untuk
membuka rahsia dalam dari ketidaksadaran, tetapi untuk membantu klien mengenali
dan memahami perasaan sesungguhnya (Hazler, 2007). Satu cara untuk mencapai
tujuan ini adalah melalui mendengar aktif dan pembicaraan reflektif (reflective
speech), sebuah teknik dimana terapis menjadi cermin untuk perasaan yang
dialami klien. Rogers percaya bahwa manusia membutuhkan tiga elemen dasar untuk
tumbuh: penghargaan positif tanpa syarat (unconditioning positive regard),
empati, dan ketulusan (genuineness) atau otentisitas. Tiga elemen dari
perkembangan kepribadian ini dicerminkan dalam pendekatannya pada terapi.
·
Terapi Gestalt (gestalt therapy), adalah terapi humanistic, dikembangkan oleh Fritz Perls (1893-1970),
dimana terapis menantang klien dalam urutan tertentu untuk membantu mereka
menjadi lebih sadar tentang perasaan mereka dan menghadapi masalah. Terapis
gestalt mendorong klien untuk menentukan apakah mereka akan akan terus
membiaskan masa lalu mengendalikan masa depanmereka atau apakah mereka akan
memilih saat ini juga apa yang mereka inginkan di masa depan. Terapis gestalt
menggunakan sejumlah teknik untuk membantu klien terbuka tentang perasaan
mereka, untuk mengembangkan kesadaran diri, dan untuk mengambil kendali aktif
dalam kehidupan mereka (Siverstein & Unlhas, 2004). Terapis memberikan
contoh, mendorong kongruensi antara perilaku verbal dan nonverbal, dan
menggunakan bermain peran. Untuk menstimulasi perubahan, terapis seringkali
dengan terbuka mengonfrontasi klien. Untuk mencontohkan hal penting pada klien,
terapis gestalt mungkin akan melebih-lebihkan karakteristik klien.
Terapis gestalt lebih bersifat direktif
dibandingkan dengan terapi client-centered. Dengan lebih direktif, terapis
gestalt menyediakan lebih banyak interpretasi dan umpan balik. Walau begitu,
kedua terapi humanistic ini mendorong individu untuk mengambil alih
tanggungjawab untuk perasaan dan tindakan mereka, untuk menjadi diri mereka
yang sebenarnya, untuk memahami diri mereka sendiri, untuk mengembangkan
perasaan bebas, dan untuk melihay apa yang mereka lakukan pada hidup mereka.
Metode
psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah:
·
Gestalt Therapy
·
Client Cantered Psychotherapy
·
Depth Therapy
·
Sensitivity Training
·
Family Therapies
·
Transpersonal Psychotherapy
·
Existential Psychotherapy
3)
Terapi
Perilaku (behavior therapies)
Pendekatan terapi perilaku (behavior
therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi
oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy
adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative
learning”.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular.Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular.Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
v Teknik-teknik pengondisian klasik
Bila
seorang individu telah mempelajari ras atakut akan ular atau ketinggian melalui
pengondisian klasik, maka individu dapat membalikan hasil belajar ini melalui
countercondotioning. Dua tipe counterconditioning adalah :
·
Desensitisasi sistematis (systemayic
desensitization), adalah sebuah metode perilaku terapi yang didasarkan pada
pengondisian klasik yang memperlakukan kecemasan dengan membuat orang tersebut
mengasosiasikan relaksasi mendalam secara bertahap dengan situasi yang
menimbulkan kecemasan (Wolpe, 1963). Desensitisasi sistematis sering digunakan
sebagai cara mengatasi fobia yang efektif, seperti ketakutan member pidato,
ketakutan akan ketinggian, ketakutan untuk terbang, ketakutan akan anjing, dan
ketakutan akan ular
·
Pengondisian Aversif (aversive
conditioning), terjadi pemasangan berulang dari sebuah perilaku yang tidak
diharapkan dengan sebuah stimulus aversif untuk menurunkan penguatan yang
didapatkan dari perilaku. Pengondisian aversif digunakan untuk mengajarkan
orang untuk menghindari perilaku tertentu, seperti merokok, makan berlebihan,
dan minum alcohol.
v Pendekatan Pengondisian Operan
Filosofi
mendasar penggunaan pengondisian operan sebagai terapi adalah bahwa, karena
pola perilaku maladaftif dipelajari, merka dapat dibalikan. Terapi ini melibatkan
analisis mendalam terhadap lingkungan orang yang menjalalni terapi untuk
menentukan faktor-fakktor mana yang perlu dimodifikasi. Teknik operan
memusatkan pada modifikasi perilaku
(behaviour modification), penerapan prinsip-prinsip pengondisian operan
untuk mengubah perilaku manusia; tujuan utamanya adalah untuk mengganti
perilaku yang maladaptif dan tidak dapat diterima dengan perilaku yang dapat
diterima, yang adaptif.
Berbagai
metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah:
·
Exposure and Respon Prevention (ERP)
·
Systematic Desensitization
·
Behavior Modification
·
Flooding
·
Operant Conditioning
·
Observational Learning
·
Contingency Management
·
Matching Law
·
Habit Reversal Training (HRT)
4)
Terapi
Kognitif
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy)
punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh
karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola
pikiran untuk bisa mengubah perilaku.Pandangan Cognitive Therapy
adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi
perilaku. Tokoh besar dalam cognitive therapy antara lain Albert Ellis dan
Aaron Beck.
Terdapat
tiga jenis utama terapi kognitif, yaitu ;
Å
Terapi
perilaku emosional-rasional (rational-emotive behahiour therapy----REBT), didasarkan pada pemahamn Albert
Ellis, bahwa individu mengembangan gangguan psikologis karena kepercaayan
mereka, terutama kepercayaan yang berifat tidak rasional dan menundukan diri.
Tujuan REBT adalah untuk membantu orang menghilangkan kepercayaan-kepercayaan
yang menundukan diri dengan secara rasional memeriksa kepercayaan ini (Vernon,
2007).
Å
Terapi
kognitif Beck, sebuah
asumsi dasar yang dipegang Beck adalah bahwa permasalahan psikologis, seperti
depresi, muncul ketika orang berfikir secara tidak logis tentang diri mereka
sendiri, tentang dunia tempat mereka tinggal, dan masa depan (2005, 2006).
Å
Terapi
kognitif perilaku (cognitive-behaviour therapy), terdiri atas sebuah kombinasi antara
terapi kognitif, dengan penekanan pada pengurangan pemikiran-pemikiran yang
menaklukkan diri sendiri, dan terapi perilaku, dengan penekanan pada perubahan
perilaku.
Bagaimana Proses Psikoterapi?
Psikoterapi merupakan interaksi yang
profesional dan dinamis antara klien dan psikoterapi. Tujuan dari interaksi
tersebut adalah tercapainya perubahan pada diri klien. Klien umumnya
datang karena suatu keluhan berkaitan dengan pikiran, perasan, perilaku atau
keluhan fisik yang disebabkan oleh masalah psikis. Dan untuk mengatasi keluhan tersebut,
dilakukan psikoterapi dengan proses sebagai berikut.
Psikoterapi diawali dengan
perkenalan personal.Tujuannya adalah terciptanya rapport atau hubungan yang
akrab dan saling merasa nyaman.Hal ini penting, karena umumnya klien datang
dengan perasaan agak canggung atau malu.
Setelah komunikasi terjalin lancar,
kemudian psikoterapi dimulai. Berikut ini empat tahapan yang umum dilalui pada
sesi pertama atau pertemuan pertama psikoterapi.
1.
Analisa Masalah (Assessment)
Terapis hanya bisa membantu klien
apabila terapis dan klien memahami masalah klien. Oleh karena itu, psikoterapi
diawali dengan klien bercerita tentang masalah dan kemudian terapis mengajak Anda untuk
"membedah" masalah tersebut dari sudut pandang psikologi. Tujuan
analisa masalah adalah terapis dan klien memahami secara pasti apa yang
sebenarnya menjadi masalah klien. Sering kali terjadi, apa yang dianggap klien
sebagai masalah utama, sebenarnya hanyalah akibat dari suatu masalah yang tidak
disadari.
2.
Menentukan Tujuan Psikoterapi
Setelah masalah diketahui secara
jelas, maka selanjutnya adalah menentukan tujuan dari terapi. terapis akan
memandu klien untuk menentukan target, hasil atau outcome dari proses terapi
yang akan dijalani. Tujuan haruslah spesifik dan jelas supaya proses
psikoterapi terarah dan terapis bisa menentukan metode terapi apa yang akan
digunakan untuk mengatasi masalah Anda. Bisa jadi terapis hanya menggunakan
satu metode terapi atau gabungan beberapa metode psikoterapi.
3.
Penerapan Metode Psikoterapi
Dalam psikoterapi modern ada banyak
metode psikoterapi yang bisa digunakan. Beberapa metode psikoterapi yang digunakan
adalah Trance Psychotherapy, Behavioural Therapy, Cognitive Behavioural
Psychotherapy, Neuro Linguistic Programming, Psychoanalysis, Forgiveness
Therapy, Ego State Therapy, Emotional Freedom Technique dan masih banyak lagi.
4.
Mengakhiri Sesi Psikoterapi
Satu sesi psikoterapi yang dilakukan
berlangsung selama 2 jam.Kadang terapis mengakhiri sesi dengan memberikan beberapa
petunjuk yang bisa dilaksanakan sendiri di rumah.Namun sering kali terapis
tidak memberi petunjuk apapun kepada klien karena memang tidak diperlukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar