Kamis, 06 Juni 2013

Pengertian dan sejarah Psikologi Diagnostik


Pengertian dan sejarah psikodiagnostika

            Pada awalnya pemeriksaan psikologi (diagnostik psikologis) digunakan untuk memecahkan persoalan- persoalan praktis, baik pada individu, kelompok, institusi atau bidang- bidang sosial. Sektor- sektor tersebut, menjadi penyebab terdiferensiasinya bidang penerapan psikodiagnostik. Perkembangan berikutnya, diferensiasi juga terjadi pada obyek material dan obyek formal, hal ini beriringan dengan perubahan keorganisasian keilmuan psikologi. Semula terdapat 4 bidang penerapan: Umum & Experimen, Perkembangan, Sosial, dan Klinis. Berikutnya menjadi berkembang sesuai dengan minat, yaitu ; Psikologi klinis dan kesehatan, Psikologi pendidikan, Psikologi organisasi, Psikologi vocational,Neurological psikologi,Perkembangan,Sosial,Klinis

            Psikodiagnostik adalah studi ilmiah tentang berbagai metode untuk membuat diagnosis psikologis, dalam tujuan supaya dapat memperlakukan manusia dengan lebih tepat. Penggunaan istilah psikodiagnostik secara eksplisitmuncul ketika Hermann Rorschach menerbitkan hasil penelitian dengan metode Rorschach dalam lapangan psikiatri dengan judul psikodiagnostik. Psikodiagnostik adalah metode yang digunakan untuk menetapkan kelainan-kelainan psikis, dengan tujuan untuk dapat memberikan pertolongan secara tepat dan akurat.

            Psikodiagnnostik dipengaruhi oleh perkembangan dalam psikometri danoleh pertumbuhan pengetahuan pada subdisiplin/ cabang ilmu psikologi. Psikodiagnostik berisi/ terdiri atas empat komponen. Setiap komponen terdiri atas tiga peringkat pengetahuan diagnostik. Empat Komponen tersebut adalah;

1.      the information gathering, pada dasarnya sebelum memberikan suatu intervensi, diperlukan adanya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan studi pustaka, dengan tujuan membuat hipotesis atau modal untuk merumuskan suatu masalah yang sedang dihadapi, yang akan digunakan pada langkah selanjutnya.

2.      The understanding of the information, setelah mengumpulkan informasi sebanyak- banyaknya, informasi tersebut perlu dipahami sedemikian hingga, dan tercipta atau ditemukannya suatu pokok permasalahan untuk dapat melakukan pengujian hipotesis.

3.      The integration of the information, setelah dilakukan pengujian hipotesis perlu adanya penarikan kesimpulan yang menentukan intervensi apa yang sesuai untuk klien yang membutuhkan. jika masih didapati kesalahan pada hipotesa, atau hipotesa tidak terbukti, maka siklus harus terjadi. langkah yang harus diambil adalah kembali pada pengumpulan data selanjutnya guna menciptakan suatu hipotesa yang dapat terbukti atau benar adanya, maka dapat menentukan intervensi yang dapat kita berikan pada klien.

4.      The intervention to solve the problem, pada dasarnya hanya memberikan suatu saran yang berguna demi perbaikan klien. setelah diberikan intervensi, untuk mengontrol bahwasanya intervensi tepat pada sasaran maka diperlukan adanya evaluasi.Sehingga jika intervensi yang telah diberikan namun tidak membuahkan hasil, maka harus dilakukan siklus.

A.    Tujuan psi. diag

·         Educational dan vocational setting

Mis: seleksi, promosi, pemilihan jurusan dll

·         Legal setting (hokum)

Mis: pembunuh berantai yang ingin diketaui apakah memiliki gangguan/tidak.

·         Clinical setting

Mis: psikotes untuk mengetaui trapi yang tepat

·         Research setting

Mis: untuk mengetahui IQ untuk penelitian

B.     Penelitian formal

·         Pendekatan klinis

            Mendeskripsikan kepribadian guna menentukan terapi,Metode kontak langsung seperti wawancara, observasi, analisis dokumen pribadi dll.

·         Pendekatan obyektif

            Pengukuran kemampuan individu secara lebih obyektif, Mis: tes masuk sma, rekrutman Yang perlu di perhatikan sebelum melakukan diagnostic.

·         Rapport

            Interaksi yang positif, saling menerima tanpa prasangka dan tekanan antara testi dan tester sehingga dapat memberi kesan bahwa tester adalah orang yang ramah dan bersikap membantu.

·         Ego invotement

Suatu situasi yg melibatkan kepentingan individu yang diperiksa Motivasi/dorongan.

C.     Penggolongan alat ukur tes

1.      Berdasarkan penggunaan waktu.

a.       Speed tes menggunakan batas waktu, Mis: tes intelegensi.

b.      Power tes tidak menggunakan batasan waktu, Mis: tes grafis.

2.      Berdasarkan aspek psikologis

a.       Pengukuran kemampuan kognitif.

ü  Kemampuan umum, Mis: tes intelegensi.

ü  Kemampuan khusus, Mis: tes bakat

b.      Pengukuran kemampuan kepribadian, Mis: tes kepribadian, tes minat, pengukuran sikap dll.

c.       Pengukuran neuropsikologikal

Tes untuk mengungkap fungsi persepsi visual, auditori dan tactile, tes fungsi ingatan, tes fungsi kemampuan verbal.

a.         Pegukuran behavioral, Tes observasi, self repport, self monitoring.

3.      Menurut penyajiannya

            Tes individual: dilakukan oleh 1 tester thdp 1 testi, Klasikal: dilakukan oleh 1 tester thdp banyak testi.

D.    Macam-macam alat tes

·         Tes intelegensi

ü  tes kognitif secara umum, Mis: binet, CPM, WAIS,SPM

ü  Tes kognitif secara khusus.

ü  Tes bakat, Mis: DAT,GATP, FACT

ü  Tes minat, Mis KUDER, RMP.

·         Tes kepribadian

ü  Tes inventori, Mis MMPI,IGPF, EPPS.

ü  Tes proyektif, Mis: TAT/CAT

·         Observasi

            Bisa dilakuan dilapangan, laboratorium dll, Yang diobservasi al prilaku tertentu mis: prilaku agresif, dan mengamati berdasarkan batasab waktu tertentu.

ü  Cara observasi

            Partisipan/secara langsung: observer masuk kedalam org yang di observasi tanpa pemberitahuan terlebidahulu.

            Non partisipan: mengamati dari jauh orang yang ingin di observasi, Setelah melakukan observasi, kemudian melakukan pendataan bisa berupa narasi dan ceklis.

·         Wawancara/interview

            Suatu keadaan diman interviewer dan interviewee bertemu dan terjadi percakapan dimana interviewer yang memimpin, Interviewer harus bisa mendengar apa yang di katakana interviewe.

            Pada saat melakukan wawancara bisa juga melakukan observasi (prilaku nonverbalnya) Sebagai seorng interviewer harus bisa mengontrol suara.


2 komentar: